aBout Andreas Hartono

aBout Andreas Hartono

tonAndreas Hartono (MasTon), putra ketujuh pasangan Petrus Soedarno dan Theresia Katinem, lahir di Jumapolo, sebuah desa kecil di kaki gunung Lawu, Karanganyar, Surakarta, 44 tahun yang lalu. MasTon menyelesaikan SD Negeri I dan SMP Negeri I di desa Jumapolo dan melanjutkan SMA di SMA Negeri I Surakarta. Selesai dari SMA, MasTon melanjutkan pendidikan di jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung. Ketika bekerja di PT Pelabuhan Indonesia I (Persero), Maston sempat mendapatkan tugas belajar di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, untuk mendalami bidang Magister Management.

Sejak kecil Maston senang dengan pemikiran filsafat, bahkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul kepada diri sendiri sulit untuk dijawab bahkan sampai sekarang. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain: kenapa bapakku namanya Soedarno dan ibuku Katinem?, kenapa aku lahir di Jumapolo, kenapa tidak lahir di Sumatera, kenapa tidak di Colombo, dan kenapa tidak di Inggris?, kenapa waktu lahir kok nggak ditanya dulu mau lahir dimana? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang masih sulit untuk dijawab, tetapi ada yang sudah memiliki jawabannya yaitu untuk pertanyaan tempat kelahiran, Tuhan menjawabnya melalui pasangan hidup Maston saat ini. Dia lahir di Sumatera, ibunya orang Srilangka dan bapaknya indo Inggris.

Berbekal seabrek pertanyaan itulah yang akhirnya membawa Maston setamat dari ITB, sempat bergabung dalam komunitas biara Ordo Santae Crucis (OSC) di Bandung untuk persiapan menjadi seorang pastor. Alasan klasik, keluar karena bukan panggilan. Alasan yang sesungguhnya biarlah tersimpan di dalam arsip bawah sadarnya sendiri.

Kecintaanya dengan hal-hal yang filosofis mengantarkan Maston lebih merasa senang mendalami bidang teologi, psikologi dan spiritualitas dari pada ilmu yang dipelajari secara formal di Bandung. Pemahaman teologi, psikologi dan spiritualitasnya sangat dibantu oleh pembimbing rohani semasa di Bandung dan berlanjut saat di Medan yaitu Pastor Yan Sunyata OSC (t).

Setelah menikah dengan kekasihnya, Tuhan mengaruniai dua orang putra dan satu orang putri, Yohanes Evanjelis (12 thn), Benedictus Kevin Ronggoseto (10 thn) dan Bernadeta Hartika Wijiwigati (6 thn). Proses pembelajaran di Institute Kehidupan semakin ditekuninya secara serius setelah merasakan pengetahuan tentang teologi, psikologi dan spiritualitasnya tidak membawa ke dalam perubahan kehidupan rumah tangganya semakin baik. Sejak saat itu, MasTon mulai menyadari ada yang tidak benar dari dalam dirinya sendiri. Melalui tekad yang sangat kuat dan keberanian dalam dirinya, akhirnya MasTon memutuskan untuk melakukan perjalanan menuju proses pembelajaran dari pendekatan penalaran menuju proses pembelajaran dengan pendekatan penyadaran. Perubahan paradigma ini telah membawa dirinya menemukan kunci menuju perkembangan seperti yang dinyatakan oleh Michael Newton Ph.D. yaitu melalui pemahaman bahwa kita dikaruniai kemampuan untuk melakukan koreksi di tengah jalan sepanjang hidup kita, dan dengan memiliki keberanian untuk membuat perubahan yang dibutuhkan manakala apa yang kita lakukan tidak membawa manfaat.

Salah satu proses pembelajaran melalui pendekatan penyadaran ini telah dituangkan ke dalam buku yang berjudul EQ Parenting, Cara Praktis Menjadi Orang Tua Pelatih Emosi. Kesadarannya telah membimbing untuk menuangkan pengalaman pembelajaran sebagai orangtua pelatih emosi ke dalam sebuah buku sebagai sumbangan pemahamannya demi kemajuan generasi muda bangsa. MasTon mulai menyadari bahwa struktur pembangun kehidupan berbangsa dan bernegara terletak pada kehidupan komunitas yang paling kecil yaitu keluarga. Dengan pemahaman baru ini, MasTon terobsesi untuk mendirikan Indonesia Parental Institute.

SaLAM Cahaya

tabs-top
  • No Related Post
bookmark bookmark bookmark bookmark bookmark bookmark bookmark bookmark bookmark bookmark bookmark bookmark
tabs-top

1 Comment »

  1. fx sutono Says:

    mas…, kalau berkenal saya minta alamatnya mas Hartono ini.kok dari Jumapolo juga.
    cuma saya kelahiran 1968.

    comment-bottom

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment